Selasa, 10 September 2013

aLONELYing



When I feel hollow
I just need to go somewhere far away
Lying in the middle of sunflowers
Closing my eyes
Keep silent, without any words
With the right person
Beside me


Selasa, 11 September 2012

TRUST

Apa makna 'kepercayaan' di matamu?
Pengalaman hidupku mulai mengubah pandanganku atas makna 'kepercayaan' atau 'trust'.
Bukan lagi sekadar menjaga rahasia cinta monyet masa muda
Bukan lagi membungkam rahasia orang terdekat dengan gembok kesetiaan
Bukan lagi memberikan kesempatan untuk memasuki relung hati yang tertutup
Bukan lagi membuang waktu menguji komitmen menghindari pengkhianatan
Bukan lagi bergelut dengan penerimaan masa kelam yang menyisakan noda kini dan harapan

Tapi seberapa mampu aku berani menyerahkan segala kelemahanku ke genggamanmu
Tanpa ragu kau akan pernah remukkan aku...

] G O N E [

Kamu hanya mengagumi segala keunikan dan keyakinanku pada mimpi-mimpiku... khayalan-khayalanku...

Tapi kamu belum mampu menyelami mimpi dan khayalku hingga kau jadikan dirimu bagian

Sudah cukup ku menyakitimu tuk memaksakan diri mengarungi arus deras logikaku

Habis waktunya kuberbagi rasa dan mencekokimu dengna harapan semu

Biarkan aku hidup dalam mimpi khayalku hingga tokoh kisah cintaku bertandang menyelinap


Kulik jemariku :
Selepas menonton 'Perahu Kertas' karya Dee, aku terinspirasi bahwa kita perlu melepaskan paksaan agar orang selalu memahami kita. Lebih baik biarkan tokoh itu muncul sebagai pemeran utamanya, yang akan selalu memahami segala mimpi dan khayal kita terhadap namanya hidup.... 

Kamis, 19 Juli 2012

Teman Hidup

dia indah meretas gundah
dia yang selama ini ku nanti
membawa sejuk, memanja rasa
dia yang selalu ada untukku
di dekatnya aku lebih tenang
bersamanya jalan lebih terang
tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
kau milikku, ku milikmu
kau milikku, ku milikmu
di dekatnya aku lebih tenang
bersamanya jalan lebih terang
tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
bila di depan nanti
banyak cobaan untuk kisah cinta kita
jangan cepat menyerah
kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
kau milikku, ku milikmu
kau jiwa yang selalu aku puja

Title Song : Teman Hidup
Singer : Tulus

Minggu, 24 Juni 2012

It is me

I am Chatolic.
Saya ini masih ‘balita’ sebagai umat Katolik, baru tahun 2006 saya dibaptis atas keputusan pribadi saya. Sedari kecil saya sudah diperkenalkan dengan Katolik, namun belum dididik sepenuhnya secara Katolik. Saya tumbuh kembang di sekolah Kristiani. Dari TK hingga SMP, saya dididik di sekolah Katolik. Saya melanjutkan SMA di sekolah Kristen Protestan. Tak disangka pengalaman saya di sekolah berlandaskan Kristen Protestan, malah menguatkan keputusan saya untuk menjadi seorang Katolik. Saya selalu ingat percakapan teman-teman seperjuangan yang sedang menjalankan masa katekumen (red- persiapan menjadi Katolik) dengan Romo Pembimbing kami. Percakapannya kira-kira seperti ini:

‘Romo, dari mana kita tahu bahwa ajaran agama yang kita jalani saat ini sebagai sesuatu yang benar? Jangan-jangan itu hanya rekayasa manusia zaman dulu saja’
‘Dari mana asal ajaran yang kita yakini saat ini? Alkitab? Itu memang tulisan tangan orang zaman dulu tentang iman kepercayaannya kepada Yesus Kristus. Yang kita yakini sekarang adalah iman kepercayaan para rasul (red: murid-murid Yesus Kristus) terhadap Yesus Kristus’
‘Bagaimana kalau yang mereka yakini itu salah?’
‘Menjalankan agama adalah suatu pilihan pribadi masing-masing. Saat kamu memutuskan mau meyakini suatu iman kepercayaan seseorang, saat itulah kamu bersedia menerima segala baik buruk agamamu. Kalau kalian tidak mampu yakin dengan apa yang diyakini oleh para rasul dan merasa tidak nyaman karenanya. Hak kalian untuk tidak melanjutkan pembelajaran ini, carilah ajaran agama yang membuat kalian nyaman dan tumbuh di dalamnya’

Itu cuplikan percakapan luar biasa yang pernah saya alami. Pertanyaan teman saya memang pertanyaan saya sedari dulu tentang suatu agama. Segitu banyak agama tumbuh kembang di dunia ini, serasa sedang memilih barang untuk dipakai. Tak jarang dibuang dan digantikan dengan yang baru seperjalanannya. Saya tidak peduli dengan persepsi negatif tentang cara Romo saya menjawab tentang agama, tetapi saya melihat jawaban tersebut sebagai suatu bukti nyata KEBEBASAN BERAGAMA. Saya tidak suka dipaksa, maka dari itu saya belajar tidak memaksa.
Adalagi pengalaman gila saya mendengarkan komentar salah satu dosen favorit saya mengenai agama. Sedari awal, beliau sudah menggaris-bawahi bahwa ucapannya ini di luar maksud ajaran agama itu benar atau salah. Beliau berkomentar kira-kira seperti berikut,

‘Kenapa manusia itu memiliki suatu kepercayaan tertentu? Di luar suatu ajaran kepercayaan itu benar dan salah. Manusia itu mahkluk yang tidak dapat hidup sendiri. Lemah. Ingin merasa aman. Butuh kekuatan di luar dirinya sendiri yang bisa menguatkannya. Tuhan, Allah, siapapun namanya, adalah suatu ‘sosok’ abstrak yang dibentuk pikiran manusia untuk mereka dapat bersandar. Untuk dapat mereka yakini bahwa ada yang lebih berkuasa daripada dirinya sendiri. Itu yang mereka butuhkan untuk membuat mereka lebih kuat menjalankan kehidupan’

Lagi-lagi ini melengkapi puzzle-puzzle pikiran saya mengenai agama dan kepercayaan. Saya melihat ucapan beliau sebagai suatu pernyataan logis dalam penggambaran kebutuhan manusia untuk dilindungi, merasa aman, merasa ditemani, merasa diterima segala kekurangan. Kenyataan hidup memang menunjukkan tidak akan ada manusia yang akan benar-benar menerima seseorang 100% mutlak, selain Tuhan kita sendiri. Di luar benar atau tidaknya sosok yang kita percayai dari agama atau kepercayaan kita masing-masing. Tampaknya kita tidak perlu bermalu hati bahwa itulah alasan dasar kita beragama. Kebutuhan sebagai manusia seutuhnya.
Di luar pencarian identitas saya sebagai Katolik, saya masih seperti anak ‘balita’ pada umumnya. Saya masih sangat butuh pengarahan tentang agama yang saya pilih. Saya masih seringkali diingatkan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban dari agama saya. Tentunya, saya juga sama halnya dengan ‘balita’ lain yang merasa ingin tahu lebih banyak dan semangat saat mengalami pengalaman iman.
Pengalaman iman saya memang belum seberapa. Tetapi lewat blog ini, saya ingin membagi pemikiran dan perasaan saya mengenai pengalaman iman saya yang masih sedangkal kolam ikan. Ide gila ini tercetus karena Misa Ekaristi hari Minggu, 24 Juni 2012 (tepatnya terjadi tadi pagi), perayaan Yohanes Pembaptis. Kalau saya menceritakan seluruh pengalaman iman saya, rasanya masih belum pantas, tetapi saya lebih baik menyimpulkan dalam kalimat simpulan saja.
‘Dari segala pengalaman iman yang saya jalani, kekuatan terbesar ada dalam ketulusan, sikap berserah, dan penuh keyakinan akan Tuhan. Di saat saya sudah tidak sanggup lagi menggunakan otak, segala panca indera, dan hati nurani untuk menyelesaikan suatu masalah, saat itulah saya tahu saya hanya perlu menjalankan kekuatan terbesar dalam suatu iman. Berdoa dan jalankan semua dengan ketulusan memang untuk Tuhan’
Simpulan saya pasti terdengar luar biasa ya. Saya akui itu sulit dijalankan. Apalagi macam ‘balita’ seperti yang saya tadi paparkan. Kalimat simpulan yang saya buat itu saja seringkali terlupakan begitu saja karena kesibukan saya mengurusi hal dunia, hingga lupa menyuapi jiwa ini. Misa ekaristi hari ini kembali ‘menampar’ saya di gereja untuk selalu ingat simpulan akan pengalaman iman yang sudah saya rasakan. Romo tamu hari ini seakan memaksa saya membuka mata agar saya jangan lupa dengan keputusan saya dalam memilih agama ini. Beliau seakan mengingatkan dan menenangkan saya dalam menjalani hari-hari saya ke depan, bahwa tidak perlu mengkhawatirkan apapun, jalankan saja dengan keyakinan imanmu.
Tema Misa Ekaristi hari ini adalah perayaan Yohanes Pembaptis. Tokoh yang membaptis Yesus. Awalnya saya tidak menemukan kaitannya tokoh ini dalam kehidupan kita sehari-hari hingga salah satu Romo Paroki dan Romo Tamu di gereja saya membuka tema homili hari ini dengan kata ‘PERINTIS’. Yang menjadi inspirasi tulisan saya hari ini adalah homili dari Romo tamu dari Keuskupan Agung Jakarta. Kalau saya tidak salah dengar, namanya Romo Yose. Beliau mendapatkan tugas pelayanan yang menurut saya sangat tidak lazim, yaitu menjadi Romo di Militer Angkatan Udara. Beliau berpangkat Mayor. Di tengah perkenalan dirinya di depan umat hari ini, beliau melanjutkan homili kira-kira sebagai berikut:

‘Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan menjadi seorang tentara. Saya pernah berada di satu titik bertanya kepada Tuhan, mau Kau jadikan apa aku? Ya, sekarang aku sekarang jadi seorang Romo, terus? Sampai suatu saat saya berdoa dan meminta kepada Tuhan, kalau memang Engkau merencanakan sesuatu kepadaku, tolong berikanlah tanda, berikan aku sebuah gereja. Lima tahun kemudian, saya mendapatkan gereja pertama saya di gudang senjata militer yang perlahan-lahan menjadi paroki’
‘Maka dari itu, jangan pernah takut untuk menjadi berbeda dari orang lain. Tuhan selalu punya rencana terbaik buat Anda sekalian. Yang penting adalah kekuatan dari dalam diri Anda. Dibentuk dari mana? Dari kekuatan keluarga itu sendiri’

‘Setiap orang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Itu namanya firasat. Setiap orang bahkan punya firasat akan pergi dari dunia ini, maka dari itu persiapkan diri Anda untuk menghadapi waktunya’
‘Yakinlah pada iman dan kepercayaan Anda terhadap Tuhan. Kerjakanlah yang memang Anda yakini dikerjakan untuk melayani Tuhan’

Saya tidak tahan menahan air mata saya di pelupuk mata saya. Ada sensasi perasaan yang saya alami. Saya hanya merasa bahwa saya diingatkan untuk tidak perlu takut untuk menjadi berbeda dari orang lain pada umumnya. Saya tidak perlu merasa takut selama yang saya lakukan memang untuk suatu alasan baik, suatu alasan yang diperuntukan kepada Tuhan. Yang perlu saya lakukan hanya menerima segala kelebihan dan kekurangan saya sepenuhnya. Inilah saya. Yang perlu saya lakukan adalah ‘melunakkan’ diri agar siap dibentuk oleh-Nya.
Saya sadari bahwa saya kesulitan untuk mengungkapkan kesedihan saya dalam bentuk tangisan, bagi saya emosi itu bisa diatur. Nyatanya itu hanya membunuh jiwa saya perlahan-lahan. Kalian juga perlu tahu, betapa saya benci dengan salah satu ritual Misa Ekaristi, yaitu salam damai dengan orang di sekeliling saya. Cukup dengan satu alasan, saya tidak suka diganggu. Bersalaman dengan orang asing itu sangat mengganggu. Yang membuat saya menjadi seperti ini cuman satu, yaitu saya tidak mau menunjukkan kekurangan saya di depan orang lain.
Hari ini Tuhan benar-benar menatar saya di rumah-Nya, saat itu juga, tanpa kompromi. Saya dibuat nangis sejadi-jadinya. Saya tidak dapat menahan tangis sejak homili berakhir. Dari tangisan yang bisa saya alihkan seakan-akan saya sedang menguap, sampai akhirnya tangis itu pecah tak tertahankan ketika Romo meminta umat bernyanyi bersama lagu ‘Bapa Kami’ favorit saya. Saya sampai tidak sanggup bernyanyi, dan saya bergumul untuk menenangkan diri saya karena saya tahu sebentar lagi saya harus bersalaman dengan orang banyak. Tapi baru kali ini saya rasanya dilarang untuk berhenti menangis. Hebatnya dipaksa di depan umum yang juga tak lama kemudian berlalu lalang karena menerima komuni. Sampai satu titik, seorang ibu tepat di sebelah saya menyerahkan tissue kepada saya, dan saya merasa bahwa Tuhan berkata bahwa terlihat lemah di depan orang lain itu tidak apa, karena masih ada orang yang bisa memahaminya dengan tulus. Saya pun mengakhiri misa saya dengan tubuh bergetar dan tangisan yang tak berhenti. Hingga akhirnya saya menjadi tenang dan mampu mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut karena telah memberikan saya tissue yang menyimbolkan bahwa menangis lemah itu tak apa, apalagi di rumah Tuhan. Yang saya tangkap dari homili hari ini  bahwa jadilah perintis yang hendaknya menerima diri sendiri dan serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Kamis, 17 Mei 2012

TRUST


Aku tak tahu lagi caranya mempercayai
Haruskah kuberi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kau berlutut membuktikan semua padaku?
Haruskah kuberi semuanya hingga kau kibarkan bendera kemenangan memilikiku?

Aku pernah salah melihat
Aku pernah salah berharap
Aku pernah salah merasa
Aku pernah salah memilih
Aku pernah salah mencinta
Aku pernah salah mempercayaimu

Berkali-kali kuyakinkan diri … AKU TAK PERNAH SALAH!!!
Namun sekalimat sederhana menampar pipiku keras
Agar ku terbelalak menerima kenyataan
Selama ini aku tertipu, terkurung dalam fantasi harapan

Rasanya jijik dengan diri ini
Pernah berada di sana menjadi korbanmu
Perhatian berselimut persahabatan
Hingga kau tancapkan harga diriku
TEPAT SASARAN…!
Di saat kumembutuhkan mu sungguh…

Aku selalu belajar memaafkan dari Tuhanku
Dari Tuhanmu… Dari Tuhan kita…
Tapi nyatanya hatiku tak sebesar lukaku
Ternyata memaafkan kamu berlipat ganda sulit daripada menyakitimu

Bukan lagi rasa cinta dan harapan yang kurasa sekarang
Hanya tertinggal benci dan jijik
Dan pikiran mengawang yang bertanya
Bagaimana caranya mempercayai orang?

LOVE DOUGH



Bibit adonan ditambah bumbu-bumbu MASA LALU, dipotong dengan GORESAN LUKA, dikocok dengan LIKA LIKU KEHIDUPAN, lalu dipulung MENGARUNGI HIDUP, dimasukkan ke dalam CETAKAN AMBISI, dipanggang hangat oleh oven CINTA hingga sematang DIRIMU saat ini...