Ini tanggapan untuk Broadcast Messenger di "#1 Siapakah Aku Wahai Semesta?"
Ah kata “TIONGHOA” terlalu lembut didengar. Sudah jadi makanan sehari-hari kalau ada orang sipit, kulit putih, bahasa Indonesia ga beraturan bahkan terkesan buru-buru atau istilah-nya “pelo”, akan dipanggil “EH CINA!” atau umpatan “DASAR CINA!”.
Ini topik seru untuk dibahas. Kontroversi memang selalu topik seru dibahas. Topik “Kick Andy” malam itu mengingatkan percakapan saya dengan seseorang dengan latar belakang yang berbeda jauh dari saya. Percakapan yang penuh emosional yang diakhiri hingga Subuh. Saya si Cina numpang lahir di Jakarta. Dia si Jawa numpang tinggal di Jakarta. Bagi kami, Cina maupun Jawa hanya perbedaan nama produk tapi dengan Head Brands yang sama namanya MANUSIA.
Teman saya melontarkan satu pertanyaan yang seakan-akan menggunting pembatas antarmanusia yang saling mengotak-kotakkan, sebut saja benang kebudayaan. Biar mudah memahami dialog kami yang super duper mengena, saya persingkat saja panggilan teman saya dengan si Jawa dan saya dengan si Cina.
Berikut ini garis besar percakapan kami kira-kira setahun lalu:
Jawa: Lu bangga ga jadi orang Indonesia?
Sederhana kan? Tapi ini pertanyaan berat bagi saya. Tandanya ada sesuatu di diri saya yang dengan sulit mengakui diri saya sebagai Warga Negara Indonesia. Dengan berat hati saya menjawab,
Cina: Tidak
Jawa: Terus lu merasa lu tuh orang Cina donk? Lu bangga jadi orang Cina?
Cina: Yup. Gue bangga jadi orang Cina. Tapi gue orang Cina yang lahir di Indonesia. Yaa.. walopun gue tahu sih, di sana juga belum tentu diakuin. Mandarin aja ble’eh (red-jelek)
Jawa: Kenapa lu ga bangga jadi orang Indonesia?
Cina: Sulit bagi gue untuk bisa seperti lu yang cinta ma Indonesia. Gue cinta sama budaya Indonesia. Tapi gue ga suka ma negaranya.
Jawa: Negara atau pemerintah atau oknum?
Cina: Sebenernya yah oknum. Ya mereka-mereka yang sudah menggores masa lalu gue. Gue bukan orang yang rasis. Tapi ga bisa gue pungkiri, gue emosi abis inget sikap beberapa orang yang menghina gue hanya karena gue sipit… karena gue putih… karena gue beda… Mereka menghina seakan-akan gue (dan semua orang keturunan Tionghoa) ga tau diri. Mereka juga bisa sampai mengancam ingin bakar lah apalah… Ngomong penuh ancam hanya karena bajaj-nya terhalang mobil yang mau muter balik? Menurut lu? Perlu ya?
Jawa: Itu tandanya lu ga bisa ngomong, lu ga suka negara Indonesia. Tapi lu ga suka beberapa oknum Indonesia.
Cina: I know. Gue mengeneralisasikan. Tapi, gue ga bisa pungkiri, beberapa oknum ini yang membuat gue merasa tidak safety berada di Indonesia.
Jawa: Gue kecewa loh denger lu ngomong begitu tentang Indonesia. Gue merasa usaha gue en keluarga gue untuk selalu membuat orang-orang keturunan Tionghoa bersatu dengan pribumi terasa sia-sia. Hanya karena mendengar lu ngomong lu segitunya menilai ketidaknyamanan lu.
Cina: Gue suka Indonesia. Gue suka keragaman penduduknya dengan segala macam budaya. Menurut gue, Indah. Bagi gue, mau siapapun orang itu, warna apapun kulitnya, bentuk mata, warna rambut, jenis rambut, ya bagi gue… sama.. sama-sama manusia toh. Tapi gue ga bisa pungkiri lah, luka terhadap beberapa oknum emang belum bisa hilang. Tapi lingkungan tempat tinggal gue yang juga membuat gue seperti sekarang, suka dengan keanekaragaman. Hahaha.. Lingkungan rumah gue kan penuh dengan macam-macam orang dan budaya, tapi kita saling jaga, terutama waktu kejadian Mei 1998. Itu yang tertanam di otak gue sampai sekarang.
Jawa: Iya, beberapa oknum emang nyebelin. Gue aja suka pengen hajar kalo mereka ngeliat cina lewat langsung ngomong, “Eh Cina… Cinaa” Gue pun akui gue khawatir kalau lihat cewe Cina jalan sendiri di pinggir jalan. Tapi hati-hati dengan kalimat lu “Ga suka ma negara. Ga bangga”
Cina: Iyaa.. Gue salah menggunakan kata-kata. Mungkin terpancing emosi inget-inget lagi kejadian yang dihina-hina itu.
Sebenarnya masih banyak topik lain yang dibahas berkaitan dengan perbedaan ras. Tapi dari sekian banyak pembahasan, saya menyimpulkan bahwa perbedaan ras ada karena beberapa hal. Pertama, doktrinisasi suku masing-masing tanpa didasari pemahaman saling menghargai. Ini memang hal yang paling mendasar dalam diskriminasi ras. Pembahasan satu topik ini saja akan memakan waktu lama. Kedua, rendahnya pendidikan. Ini memang tidak mutlak, tetapi rendahnya pendidikan saya rasa mempengaruhi cara berpikir beberapa oknum dalam menangkap suatu informasi. Pada akhirnya, emosi terpicu tanpa mampu berpikir apa alasan emosi itu harus muncul dan kenapa harus dilampiaskan dalam bentuk tindakan anarkis. Selain masalah perbedaan ras, sebenarnya Indonesia sedang memasuki era perbedaan agama. Tema masalah yang serupa tentunya obat penawarnya sama, yaitu sikap saling menghargai.
Dari semua pembahasan ini, saya menyadari satu hal. Tidak pernah mudah mengucapkan kata ‘CINTA’ memang, bahkan terhadap negara yang sudah memberikan kehidupan selama puluhan tahun. Saya selalu mengakui bahwa diri saya adalah Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa. Saya suka dengan segala keanekaragaman penduduk, budaya, alam bahkan fenomena yang terjadi. Saya senang berada di dalam keanekaragaman ini, meskipun saya selalu berjuang melawan rasa takut saya terhadap keamanan negara ini. Saya senang sekali dengan konsep Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila (yah PPKN saya memang kurang bagus) karena ini dasar-dasar yang sebenarnya menopang negara ini untuk tegak berdiri.
Benar kata teman saya, bukan negaranya yang saya ga suka. Hanya beberapa oknum yang saya ga suka. Lalu, napa juga harus saya ga suka sama negaranya? Yang salah yah yang tinggal di dalamnya, mereka yang membuat negara ini menjadi seperti ini. Yang bisa saya lakukan untuk negara ini, atas dasar kemanusiaan, akan saya lakukan. Saya tidak pernah lagi berharap banyak dengan kemajuan negara ini, tetapi saya tetap merasa bersyukur menjadi bagian negara ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya hanya berdoa bahwa akan semakin banyak orang yang peduli dengan kondisi negara ini, negara Indonesia.
Jeplak-Jeplak kakiku:
Quote Jemariku #11:
Yang salah bukan negara Indonesia. Dasarnya negara ini sudah kuat, tetapi yang tidak kuat orang-orang di dalamnya. Lalu? Harus bagaimana? Tulisan ini saya dedikasikan untuk Indonesia yang berulang tahun 17 Agustus 2011. Namun, saya tidak cukup waktu untuk meluangkan ucapan ulang tahun pada negara ini. Yah mungkin masih segitu ceteknya nasionalisme saya. Apapun pendapat tentang saya, saya berdoa semoga bangsa Indonesia masih punya hati untuk menjaga negara Indonesia yang sudah berumur ini. Happy Birthday!