Tradisi suatu sejarah pasti berkaitan dengan suatu kepercayaan. Bagaimana seandainya tradisi berbentrokan dengan kepercayaan seseorang?
Inilah yang saya pelajari dalam pengalaman seminggu saya menjalankan upacara kematian Ama (red – panggilan untuk nenek) saya. Segala tradisi budaya Chinese yang kental dengan unsur kepercayaan Kong Hu Cu atau Buddha membuat kita kaum muda berpikir “Apa gunanya sih upacara ini? Saya kan bukan Kong Hu Cu atau Buddha?”. Mulai dari melipat kertas-kertas yang dipercayai sebagai surat jalan menuju surga. Sampai kegiatan bergantian membakar kertas-kertas tersebut sebagai memberi terang pada Ama yang sedang menuju ke Surga. Ditambah upacara doa yang dibawakan Caima dari jam 3 sore sampai 10 malam. Belum lagi doa sebelum naik ke dalam mobil jenazah, dilanjutkan sampai melepaskan burung maupun bebek sebagai tanda kias. Dan diakhiri dengan upacara pelepasan baju putih kemudian diganti dengan baju merah.
![]() |
| Tribute for Lovely Ama |
Inilah yang saya pelajari dalam pengalaman seminggu saya menjalankan upacara kematian Ama (red – panggilan untuk nenek) saya. Segala tradisi budaya Chinese yang kental dengan unsur kepercayaan Kong Hu Cu atau Buddha membuat kita kaum muda berpikir “Apa gunanya sih upacara ini? Saya kan bukan Kong Hu Cu atau Buddha?”. Mulai dari melipat kertas-kertas yang dipercayai sebagai surat jalan menuju surga. Sampai kegiatan bergantian membakar kertas-kertas tersebut sebagai memberi terang pada Ama yang sedang menuju ke Surga. Ditambah upacara doa yang dibawakan Caima dari jam 3 sore sampai 10 malam. Belum lagi doa sebelum naik ke dalam mobil jenazah, dilanjutkan sampai melepaskan burung maupun bebek sebagai tanda kias. Dan diakhiri dengan upacara pelepasan baju putih kemudian diganti dengan baju merah.
Rasanya sulit mencerna alasan dan penjelasan-penjelasan tentang upacara yang dilakukan. Tapi satu hal yang menarik dalam pengamatan saya adalah kami sekeluarga rela melepaskan sejenak keyakinan kami yang beranekaragam dengan mengikuti satu upacara kematian yang sama. Saya tidak bisa pungkiri kalau beberapa kegiatan pasti berbenturan dengan prinsip agama tertentu. Tapi, satu hal yang saya pelajari.
“Ke mana hati itu diarahkan, selama itu baik. Tuhan pasti akan selalu mengerti”
Keyakinan tiap orang memang boleh berbeda. Tapi saya menemukan tiga kesamaan ajaran dalam peristiwa ini. Pertama, Tuhan memang satu, hanya saja cara kita berbeda untuk memuja-Nya. Kedua, semua agama selalu mengajarkan cinta kasih. Dan cinta kasih dalam peristiwa ini tidak sedangkal kita tidak menghina agama lain, tetapi lebih pada cara kita memaklumkan dan memahami seseorang melakukan suatu tradisi yang berbenturan dengan kepercayaan. Ketiga, menghormati orang tua memang petuah dari semua ajaran agama. Dan dengan menanggalkan kepercayaan dan menjalankan tradisi yang mungkin menentang batin dengan sungguh-sungguh merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua yang tiada tandingan.
Salah satu ujian akan keyakinan agama kita di saat-saat seperti ini. Di mana kita harus bisa membedakan suatu tradisi demi penghormatan orang tua dan keyakinan suatu agama yang adalah urusan hati dan moral manusia. Selama hati kita memang sungguh-sungguh mendoakan kebaikan bagi orang lain, dengan cara apapun. Hasilnya akan tetap sama. Pada dasarnya, tiap ajaran agama selalu sama, hanya keyakinan dan cara mewujudkan ajaran-ajaran saja yang berbeda
Quote Jemariku #16:
Buat apa ada kebimbangan dalam meyakini dan menjalankannya kalau ternyata didasari dengan dasar ajaran yang sama?
Jeplak-Jeplak Kakiku:
Tribute for my lovely Ama...










