Sabtu, 26 November 2011

Terlahir dari Tradisi


Tradisi suatu sejarah pasti berkaitan dengan suatu kepercayaan. Bagaimana seandainya tradisi berbentrokan dengan kepercayaan seseorang?

Tribute for Lovely Ama

Inilah yang saya pelajari dalam pengalaman seminggu saya menjalankan upacara kematian Ama (red – panggilan untuk nenek) saya. Segala tradisi budaya Chinese yang kental dengan unsur kepercayaan Kong Hu Cu atau Buddha membuat kita kaum muda berpikir “Apa gunanya sih upacara ini? Saya kan bukan Kong Hu Cu atau Buddha?”. Mulai dari melipat kertas-kertas yang dipercayai sebagai surat jalan menuju surga. Sampai kegiatan bergantian membakar kertas-kertas tersebut sebagai memberi terang pada Ama yang sedang menuju ke Surga. Ditambah upacara doa yang dibawakan Caima dari jam 3 sore sampai 10 malam. Belum lagi doa sebelum naik ke dalam mobil jenazah, dilanjutkan sampai melepaskan burung maupun bebek sebagai tanda kias. Dan diakhiri dengan upacara pelepasan baju putih kemudian diganti dengan baju merah.
Rasanya sulit mencerna alasan dan penjelasan-penjelasan tentang upacara yang dilakukan. Tapi satu hal yang menarik dalam pengamatan saya adalah kami sekeluarga rela melepaskan sejenak keyakinan kami yang beranekaragam dengan mengikuti satu upacara kematian yang sama. Saya tidak bisa pungkiri kalau beberapa kegiatan pasti berbenturan dengan prinsip agama tertentu. Tapi, satu hal yang saya pelajari.

“Ke mana hati itu diarahkan, selama itu baik. Tuhan pasti akan selalu mengerti”

Keyakinan tiap orang memang boleh berbeda. Tapi saya menemukan tiga kesamaan ajaran dalam peristiwa ini. Pertama, Tuhan memang satu, hanya saja cara kita berbeda untuk memuja-Nya. Kedua, semua agama selalu mengajarkan cinta kasih. Dan cinta kasih dalam peristiwa ini tidak sedangkal kita tidak menghina agama lain, tetapi lebih pada cara kita memaklumkan dan memahami seseorang melakukan suatu tradisi yang berbenturan dengan kepercayaan. Ketiga, menghormati orang tua memang petuah dari semua ajaran agama. Dan dengan menanggalkan kepercayaan dan menjalankan tradisi yang mungkin menentang batin dengan sungguh-sungguh merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua yang tiada tandingan.
Salah satu ujian akan keyakinan agama kita di saat-saat seperti ini. Di mana kita harus bisa membedakan suatu tradisi demi penghormatan orang tua dan keyakinan suatu agama yang adalah urusan hati dan moral manusia. Selama hati kita memang sungguh-sungguh mendoakan kebaikan bagi orang lain, dengan cara apapun. Hasilnya akan tetap sama. Pada dasarnya, tiap ajaran agama selalu sama, hanya keyakinan dan cara mewujudkan ajaran-ajaran saja yang berbeda

Dipercayai lipatan-lipatan kertas ini akan memberikan terang jalan menuju Surga

 
Quote Jemariku #16:      
Buat apa ada kebimbangan dalam meyakini dan menjalankannya kalau ternyata didasari dengan dasar ajaran yang sama?

Jeplak-Jeplak Kakiku:
Tribute for my lovely Ama...

Minggu, 06 November 2011

Painting #4


"Love Sign"


Denganmu senang hati terasa
Bangun dari mimpiku tahu ku tak sendiri
Matahari pun serasa lebih cerah
Dengan kecup manismu mulai melangkah
Kunikmati tiap detikku
Dengan namamu di hatiku
Kurasa bahagia dan hati berbunga-bunga
Kau buatku tergila-gila
Tunduk hati aku setia
Selayaknya sihir kau buatku terjatuh
Tapi tak berlangsung lama
Kau tinggalkan aku
Kau pergi berjejak tanya
Ayo ingat kata-katamu
Kau tak akan tinggalkan aku
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku
Ayo ingat kata-katamu
"Sayang, Cinta, kamu segalanya"
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku

-Kisah Sebentar by TULUS-

Painting #3


                                                                   "Threw Away"

Rabu, 02 November 2011

Painting #2

                                                                         "PULL IT OUT"
                                                                  Media : Pensil Warna

Painting #1

                                                         Source : internet, entahlah... lupa
                                                                      ambil di website mana

Quote Jemariku #15 :
Your painting interprete your deep feeling for someone

Jeplak-Jepak Kakiku :
Lukisan ini dibuat pada akhir tahun 2009 untuk seseorang yang spesial sebagai hadiah ulang tahun. Doa dan harapan yang kusampaikan hanya hal sederhana. Aku hanya selalu berharap dia selalu menyadari bakat dan tidak pernah berhenti bermusik.. Mungkin suatu hari nanti, aku masih akan selalu merindukan senandung suara dengan iringan gitar di malam hari yang sering kudengar.. Lukisan ini bukti sejarah doa selalu menyertai dirinya. AMIN

Fall in Love Again...

Kapan pertama kali menggoreskan cat minyak di atas kanvas? Waktu aku mengerjakan tugas Seni Rupa sewaktu SMP. Itulah pertama kalinya aku jatuh cinta dengan cat minyak. Namun, aku masih belum menyadari betapa besar hasrat ini untuk mengenal seni ini lebih dalam. Ibaratnya DENIAL, tidak hanya melulu soal cinta pada sesama manusia, ternyata bisa terjadi pada namanya seni.

Lukisan pertamaku itu pemandangan di laut. Aku mencontoh entahlah dari mana, sudah lupa. Lukisan keduaku kebetulan dapat tugas melukis apa saja, kucoba saja lukis pohon besar yang diikat tali seperti sembahyang-nya orang Jepang. A little bit creepy sih.. tapi namanya seni, no limit, freedom interpretation!

Pelukis pertama yang bikin aku tergila-gila namanya alm. Antonio Blanco. Aku sih kurang paham ya sejarah kehidupan beliau. Yang aku tahu beliau ini pelukis keturunan Spanyol dan Amerika ini hidup dan berkarya di Bali. Beliau menikah dengan gadis Bali. Sampai sekarang karya-karyanya diabadikan di museum miliknya di Ubud, Bali. Sewaktu SMP yang aku tahu yah cuman dia pelukis terkenal. Aku jatuh cinta karena nonton film seri tentang dirinya. Dasar anak remaja yang bergelora besar, aku punya ide gila!!! Aku beli kanvas, kemudian mulai melukis dengan mencontoh gambar kartun wanita jepang yang sedang memakai kimono. Setelah selesai, kutitipkan pada tetanggaku yang kebetulan orang Bali asli. Dia mau pulang ke Bali dan kebetulan memang tinggal di Ubud. Aku hanya menitipkan lukisanku dan meminta tetanggaku memintakan tanda tangan alm. Antonio Blanco di balik lukisanku, tepat di sebelah tanda tanganku. Aku juga minta dititipkan pesan ke Antonio Blanco, bahwa aku sangat senang sekali dengan karya-karyanya.

Tapi sampai sekarang, tidak pernah sekalipun aku menerima kembali lukisan itu. Kenapa? Karena keponakan tetanggaku itu merengek menyimpan lukisanku yang sudah dibubuhi tanda tangan almarhum. Rasanya mau marah!! Udah capek buat, capek minta tolong, sampe harus melalui perjalanan pindah pulau segala, hanya untuk sebuah tanda tangan. Tapi apalah daya. Lukisan itu tidak pernah sampai pada pemiliknya. Namun, aku membesarkan hati dengan berkata pada diriku

                  "Setidaknya ada satu penggemar cilik di sana yang segitunya mau lukisan lu"

Semua kenikmatan melukis kubuang jauh... Terlupakan begitu saja... Hingga suatu hari, aku dan kakak-kakakku tidak sengaja makan di restoran yang ternyata tidak jauh dari museum Antoni Blanco. Jujur saja, aku masih tidak tahu tentang adanya museum itu di sana. Aku pun hanya tidak sengaja melihat tulisan "MUSEUM BLANCO". Kupaksa kakak-kakakku masuk ke sana, tak kusangka kuhabiskan hampir 3 jam menikmati karya-karya beliau. Di situlah getaran menikmati seni lukis terusik kembali...

Sampai aku memasuki studi magisterku yang menyediakan satu mata kuliah menarik, "Art Therapy". Di kelas inilah aku menemukan kenikmatan luar biasa akan seni.. Aku mulai jatuh cinta kembali dan kali ini aku berani mengakuinya... Aku benar-benar jatuh cinta dengan dunia ini.. Aku pun mulai menerima bahwa aku mungkin memang memilikiakat mentah... Dan aku mulai menambah satu list mimpiku... melanjutkan studi as Art Therapist. Yaa siapa tahu, Tuhan mengizinkan, aku bisa melanjutkan di negri kerajaan tua itu, Inggris.

                                                                   "BERUANG"
                                                                Media : Cat Poster

"TEA TIME IN THE MIDDLE OF PARIS"
Media : Cat Poster

                                                                        "ANGGREK"
                                                                    Media : Cat Minyak

                                                                  "CHERRY IN LIPS"
                                                                   Media : Cat Minyak

                                                                     "COLOSSEUM"
                                                                   Media : Cat Minyak

Quote Jemariku #14 :
Sometimes accepting your talent needs effort. Without accepting, you wont ever realize what your soul needsmore than you've ever thought.