Apa makna 'kepercayaan' di matamu?
Pengalaman hidupku mulai mengubah pandanganku atas makna 'kepercayaan' atau 'trust'.
Bukan lagi sekadar menjaga rahasia cinta monyet masa muda
Bukan lagi membungkam rahasia orang terdekat dengan gembok kesetiaan
Bukan lagi memberikan kesempatan untuk memasuki relung hati yang tertutup
Bukan lagi membuang waktu menguji komitmen menghindari pengkhianatan
Bukan lagi bergelut dengan penerimaan masa kelam yang menyisakan noda kini dan harapan
Tapi seberapa mampu aku berani menyerahkan segala kelemahanku ke genggamanmu
Tanpa ragu kau akan pernah remukkan aku...
Selasa, 11 September 2012
] G O N E [
Kamu hanya mengagumi segala keunikan dan keyakinanku pada mimpi-mimpiku... khayalan-khayalanku...
Tapi kamu belum mampu menyelami mimpi dan khayalku hingga kau jadikan dirimu bagian
Sudah cukup ku menyakitimu tuk memaksakan diri mengarungi arus deras logikaku
Habis waktunya kuberbagi rasa dan mencekokimu dengna harapan semu
Biarkan aku hidup dalam mimpi khayalku hingga tokoh kisah cintaku bertandang menyelinap
Kulik jemariku :
Selepas menonton 'Perahu Kertas' karya Dee, aku terinspirasi bahwa kita perlu melepaskan paksaan agar orang selalu memahami kita. Lebih baik biarkan tokoh itu muncul sebagai pemeran utamanya, yang akan selalu memahami segala mimpi dan khayal kita terhadap namanya hidup....
Kamis, 19 Juli 2012
Teman Hidup
dia indah meretas gundah
dia yang selama ini ku nanti
membawa sejuk, memanja rasa
dia yang selalu ada untukku
dia yang selama ini ku nanti
membawa sejuk, memanja rasa
dia yang selalu ada untukku
di dekatnya aku lebih tenang
bersamanya jalan lebih terang
bersamanya jalan lebih terang
tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
kau milikku, ku milikmu
kau milikku, ku milikmu
kau milikku, ku milikmu
di dekatnya aku lebih tenang
bersamanya jalan lebih terang
bersamanya jalan lebih terang
tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
bila di depan nanti
banyak cobaan untuk kisah cinta kita
jangan cepat menyerah
kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
banyak cobaan untuk kisah cinta kita
jangan cepat menyerah
kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
kau milikku, ku milikmu
kau jiwa yang selalu aku puja
kau jiwa yang selalu aku puja
Title Song : Teman Hidup
Singer : Tulus
Minggu, 24 Juni 2012
It is me
I am Chatolic.
Saya ini masih ‘balita’ sebagai umat Katolik, baru tahun 2006 saya dibaptis atas keputusan pribadi saya. Sedari kecil saya sudah diperkenalkan dengan Katolik, namun belum dididik sepenuhnya secara Katolik. Saya tumbuh kembang di sekolah Kristiani. Dari TK hingga SMP, saya dididik di sekolah Katolik. Saya melanjutkan SMA di sekolah Kristen Protestan. Tak disangka pengalaman saya di sekolah berlandaskan Kristen Protestan, malah menguatkan keputusan saya untuk menjadi seorang Katolik. Saya selalu ingat percakapan teman-teman seperjuangan yang sedang menjalankan masa katekumen (red- persiapan menjadi Katolik) dengan Romo Pembimbing kami. Percakapannya kira-kira seperti ini:
‘Romo, dari mana kita tahu bahwa ajaran agama yang kita jalani saat ini sebagai sesuatu yang benar? Jangan-jangan itu hanya rekayasa manusia zaman dulu saja’
‘Dari mana asal ajaran yang kita yakini saat ini? Alkitab? Itu memang tulisan tangan orang zaman dulu tentang iman kepercayaannya kepada Yesus Kristus. Yang kita yakini sekarang adalah iman kepercayaan para rasul (red: murid-murid Yesus Kristus) terhadap Yesus Kristus’
‘Bagaimana kalau yang mereka yakini itu salah?’
‘Menjalankan agama adalah suatu pilihan pribadi masing-masing. Saat kamu memutuskan mau meyakini suatu iman kepercayaan seseorang, saat itulah kamu bersedia menerima segala baik buruk agamamu. Kalau kalian tidak mampu yakin dengan apa yang diyakini oleh para rasul dan merasa tidak nyaman karenanya. Hak kalian untuk tidak melanjutkan pembelajaran ini, carilah ajaran agama yang membuat kalian nyaman dan tumbuh di dalamnya’
Itu cuplikan percakapan luar biasa yang pernah saya alami. Pertanyaan teman saya memang pertanyaan saya sedari dulu tentang suatu agama. Segitu banyak agama tumbuh kembang di dunia ini, serasa sedang memilih barang untuk dipakai. Tak jarang dibuang dan digantikan dengan yang baru seperjalanannya. Saya tidak peduli dengan persepsi negatif tentang cara Romo saya menjawab tentang agama, tetapi saya melihat jawaban tersebut sebagai suatu bukti nyata KEBEBASAN BERAGAMA. Saya tidak suka dipaksa, maka dari itu saya belajar tidak memaksa.
Adalagi pengalaman gila saya mendengarkan komentar salah satu dosen favorit saya mengenai agama. Sedari awal, beliau sudah menggaris-bawahi bahwa ucapannya ini di luar maksud ajaran agama itu benar atau salah. Beliau berkomentar kira-kira seperti berikut,
‘Kenapa manusia itu memiliki suatu kepercayaan tertentu? Di luar suatu ajaran kepercayaan itu benar dan salah. Manusia itu mahkluk yang tidak dapat hidup sendiri. Lemah. Ingin merasa aman. Butuh kekuatan di luar dirinya sendiri yang bisa menguatkannya. Tuhan, Allah, siapapun namanya, adalah suatu ‘sosok’ abstrak yang dibentuk pikiran manusia untuk mereka dapat bersandar. Untuk dapat mereka yakini bahwa ada yang lebih berkuasa daripada dirinya sendiri. Itu yang mereka butuhkan untuk membuat mereka lebih kuat menjalankan kehidupan’
Lagi-lagi ini melengkapi puzzle-puzzle pikiran saya mengenai agama dan kepercayaan. Saya melihat ucapan beliau sebagai suatu pernyataan logis dalam penggambaran kebutuhan manusia untuk dilindungi, merasa aman, merasa ditemani, merasa diterima segala kekurangan. Kenyataan hidup memang menunjukkan tidak akan ada manusia yang akan benar-benar menerima seseorang 100% mutlak, selain Tuhan kita sendiri. Di luar benar atau tidaknya sosok yang kita percayai dari agama atau kepercayaan kita masing-masing. Tampaknya kita tidak perlu bermalu hati bahwa itulah alasan dasar kita beragama. Kebutuhan sebagai manusia seutuhnya.
Di luar pencarian identitas saya sebagai Katolik, saya masih seperti anak ‘balita’ pada umumnya. Saya masih sangat butuh pengarahan tentang agama yang saya pilih. Saya masih seringkali diingatkan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban dari agama saya. Tentunya, saya juga sama halnya dengan ‘balita’ lain yang merasa ingin tahu lebih banyak dan semangat saat mengalami pengalaman iman.
Pengalaman iman saya memang belum seberapa. Tetapi lewat blog ini, saya ingin membagi pemikiran dan perasaan saya mengenai pengalaman iman saya yang masih sedangkal kolam ikan. Ide gila ini tercetus karena Misa Ekaristi hari Minggu, 24 Juni 2012 (tepatnya terjadi tadi pagi), perayaan Yohanes Pembaptis. Kalau saya menceritakan seluruh pengalaman iman saya, rasanya masih belum pantas, tetapi saya lebih baik menyimpulkan dalam kalimat simpulan saja.
‘Dari segala pengalaman iman yang saya jalani, kekuatan terbesar ada dalam ketulusan, sikap berserah, dan penuh keyakinan akan Tuhan. Di saat saya sudah tidak sanggup lagi menggunakan otak, segala panca indera, dan hati nurani untuk menyelesaikan suatu masalah, saat itulah saya tahu saya hanya perlu menjalankan kekuatan terbesar dalam suatu iman. Berdoa dan jalankan semua dengan ketulusan memang untuk Tuhan’
Simpulan saya pasti terdengar luar biasa ya. Saya akui itu sulit dijalankan. Apalagi macam ‘balita’ seperti yang saya tadi paparkan. Kalimat simpulan yang saya buat itu saja seringkali terlupakan begitu saja karena kesibukan saya mengurusi hal dunia, hingga lupa menyuapi jiwa ini. Misa ekaristi hari ini kembali ‘menampar’ saya di gereja untuk selalu ingat simpulan akan pengalaman iman yang sudah saya rasakan. Romo tamu hari ini seakan memaksa saya membuka mata agar saya jangan lupa dengan keputusan saya dalam memilih agama ini. Beliau seakan mengingatkan dan menenangkan saya dalam menjalani hari-hari saya ke depan, bahwa tidak perlu mengkhawatirkan apapun, jalankan saja dengan keyakinan imanmu.
Tema Misa Ekaristi hari ini adalah perayaan Yohanes Pembaptis. Tokoh yang membaptis Yesus. Awalnya saya tidak menemukan kaitannya tokoh ini dalam kehidupan kita sehari-hari hingga salah satu Romo Paroki dan Romo Tamu di gereja saya membuka tema homili hari ini dengan kata ‘PERINTIS’. Yang menjadi inspirasi tulisan saya hari ini adalah homili dari Romo tamu dari Keuskupan Agung Jakarta. Kalau saya tidak salah dengar, namanya Romo Yose. Beliau mendapatkan tugas pelayanan yang menurut saya sangat tidak lazim, yaitu menjadi Romo di Militer Angkatan Udara. Beliau berpangkat Mayor. Di tengah perkenalan dirinya di depan umat hari ini, beliau melanjutkan homili kira-kira sebagai berikut:
‘Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan menjadi seorang tentara. Saya pernah berada di satu titik bertanya kepada Tuhan, mau Kau jadikan apa aku? Ya, sekarang aku sekarang jadi seorang Romo, terus? Sampai suatu saat saya berdoa dan meminta kepada Tuhan, kalau memang Engkau merencanakan sesuatu kepadaku, tolong berikanlah tanda, berikan aku sebuah gereja. Lima tahun kemudian, saya mendapatkan gereja pertama saya di gudang senjata militer yang perlahan-lahan menjadi paroki’
‘Maka dari itu, jangan pernah takut untuk menjadi berbeda dari orang lain. Tuhan selalu punya rencana terbaik buat Anda sekalian. Yang penting adalah kekuatan dari dalam diri Anda. Dibentuk dari mana? Dari kekuatan keluarga itu sendiri’
‘Setiap orang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Itu namanya firasat. Setiap orang bahkan punya firasat akan pergi dari dunia ini, maka dari itu persiapkan diri Anda untuk menghadapi waktunya’
‘Yakinlah pada iman dan kepercayaan Anda terhadap Tuhan. Kerjakanlah yang memang Anda yakini dikerjakan untuk melayani Tuhan’
Saya tidak tahan menahan air mata saya di pelupuk mata saya. Ada sensasi perasaan yang saya alami. Saya hanya merasa bahwa saya diingatkan untuk tidak perlu takut untuk menjadi berbeda dari orang lain pada umumnya. Saya tidak perlu merasa takut selama yang saya lakukan memang untuk suatu alasan baik, suatu alasan yang diperuntukan kepada Tuhan. Yang perlu saya lakukan hanya menerima segala kelebihan dan kekurangan saya sepenuhnya. Inilah saya. Yang perlu saya lakukan adalah ‘melunakkan’ diri agar siap dibentuk oleh-Nya.
Saya sadari bahwa saya kesulitan untuk mengungkapkan kesedihan saya dalam bentuk tangisan, bagi saya emosi itu bisa diatur. Nyatanya itu hanya membunuh jiwa saya perlahan-lahan. Kalian juga perlu tahu, betapa saya benci dengan salah satu ritual Misa Ekaristi, yaitu salam damai dengan orang di sekeliling saya. Cukup dengan satu alasan, saya tidak suka diganggu. Bersalaman dengan orang asing itu sangat mengganggu. Yang membuat saya menjadi seperti ini cuman satu, yaitu saya tidak mau menunjukkan kekurangan saya di depan orang lain.
Hari ini Tuhan benar-benar menatar saya di rumah-Nya, saat itu juga, tanpa kompromi. Saya dibuat nangis sejadi-jadinya. Saya tidak dapat menahan tangis sejak homili berakhir. Dari tangisan yang bisa saya alihkan seakan-akan saya sedang menguap, sampai akhirnya tangis itu pecah tak tertahankan ketika Romo meminta umat bernyanyi bersama lagu ‘Bapa Kami’ favorit saya. Saya sampai tidak sanggup bernyanyi, dan saya bergumul untuk menenangkan diri saya karena saya tahu sebentar lagi saya harus bersalaman dengan orang banyak. Tapi baru kali ini saya rasanya dilarang untuk berhenti menangis. Hebatnya dipaksa di depan umum yang juga tak lama kemudian berlalu lalang karena menerima komuni. Sampai satu titik, seorang ibu tepat di sebelah saya menyerahkan tissue kepada saya, dan saya merasa bahwa Tuhan berkata bahwa terlihat lemah di depan orang lain itu tidak apa, karena masih ada orang yang bisa memahaminya dengan tulus. Saya pun mengakhiri misa saya dengan tubuh bergetar dan tangisan yang tak berhenti. Hingga akhirnya saya menjadi tenang dan mampu mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut karena telah memberikan saya tissue yang menyimbolkan bahwa menangis lemah itu tak apa, apalagi di rumah Tuhan. Yang saya tangkap dari homili hari ini bahwa jadilah perintis yang hendaknya menerima diri sendiri dan serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Kamis, 17 Mei 2012
TRUST
Aku tak tahu lagi caranya mempercayai
Haruskah kuberi sedikit demi sedikit hingga akhirnya kau berlutut membuktikan semua padaku?
Haruskah kuberi semuanya hingga kau kibarkan bendera kemenangan memilikiku?
Aku pernah salah melihat
Aku pernah salah berharap
Aku pernah salah merasa
Aku pernah salah memilih
Aku pernah salah mencinta
Aku pernah salah mempercayaimu
Berkali-kali kuyakinkan diri … AKU TAK PERNAH SALAH!!!
Namun sekalimat sederhana menampar pipiku keras
Agar ku terbelalak menerima kenyataan
Selama ini aku tertipu, terkurung dalam fantasi harapan
Rasanya jijik dengan diri ini
Pernah berada di sana menjadi korbanmu
Perhatian berselimut persahabatan
Hingga kau tancapkan harga diriku
TEPAT SASARAN…!
Di saat kumembutuhkan mu sungguh…
Aku selalu belajar memaafkan dari Tuhanku
Dari Tuhanmu… Dari Tuhan kita…
Tapi nyatanya hatiku tak sebesar lukaku
Ternyata memaafkan kamu berlipat ganda sulit daripada menyakitimu
Bukan lagi rasa cinta dan harapan yang kurasa sekarang
Hanya tertinggal benci dan jijik
Dan pikiran mengawang yang bertanya
Bagaimana caranya mempercayai orang?
LOVE DOUGH
Bibit adonan ditambah bumbu-bumbu MASA LALU, dipotong dengan GORESAN LUKA, dikocok dengan LIKA LIKU KEHIDUPAN, lalu dipulung MENGARUNGI HIDUP, dimasukkan ke dalam CETAKAN AMBISI, dipanggang hangat oleh oven CINTA hingga sematang DIRIMU saat ini...
Minggu, 25 Maret 2012
Deny or Follow ?
![]() |
| Keep praying is an action for denying or following your God's will |
Kuhantam arus hidup garisan tangan Tuhan
Berharap aku mampu sampai pada pulau impianku bersamamu
Namun ternyata malah aku terluka parah
Timbul… Tenggelam… Menelan air arus deras…
Bercampur air mata dan keringat juang
Kurasa selalu sanggup melawan arus Tuhanku
Selama kamu selalu di sisiku
Ternyata tidak dengan dirimu
Menyerah dan putuskan tuh pasrah diri
Tidak beronta… pejamkan mata…
Tulus mengikuti arus Tuhanmu membawa
Tanda kita takkan bersama
Bbssshhh…..
Sekejap juangku usai
Kekuatanku lenyap
Aku menyerah…
Penjara Hati
Selesaikan perkara hatimu dan barulah kau boleh penjarakan aku di dalamnya
Menunggu lebih lama lagi tak ada artinya bagiku
karena tanpa kusadari, aku sudah menunggumu seumur hidupku
Lost My Half Soul
Butakan saja mataku biar aku tak usah lagi melihat dunia ini
Toh kamu memang sudah tak akan lagi ada di sisiku
Tancapkan saja ke jantung hatiku… lebih dalammm!!!
Apa artinya punya hati kalau denyutpun berhenti
Tolong tutup telingaku… pecahkan sekalian gendangku
Tak sanggup lagi dengar bisikanmu yang merindu
Hidungku mampat karna sedari tadi aku menangis pilu
Mampatkan saja sekalian biar ku tak pernah lagi hirup aroma tubuhmu
Aku lelah… Aku tak bisa berkata… Aku memang sendiri…
Tolong bekap bibirku sekaaalliiii sajaa dengan bibirmu yang dingin….
Membiru…
tolong aku… kuatkan aku….
Jeplak-Jeplak Kakiku:
Turut berduka cita atas meninggalnya suami tercinta dari mba Fira Basuki. It's inspired me.... Be strong.. :)
UNTITLED #1
'Kamu kenapa sih pake sakit segala? Kamu kan jadinya repotin orang juga. Aku jadi harus jemput kamu ksana kemari. Kalo tadinya sakit, mening kamu ga usah masuk kantor. Istirahat!", sentak dia padaku hanya karena aku minta tolong dia menjemputku di kantor. Aku hanya bisa menjawab, "sori. Kalau kamu emang ribet, ya ga apa-apa. Aku kan cuman tanya kamu bisa apa ga. Kalo ga ya ga apa-apa. Aku naik taksi aja. Ga masalah" sambil kutahan mimik muka dan suaraku. Sambil kutekan kedua ujung jariku di telingaku.. Supaya sakit hatiku terkalahkan oleh sakitnya telinga yg kutekan kuat dengan jari-jariku. Tapi... Aku tidak bisa menangis. Aku tidak bisa marah...
"Ga usah pake taksi. Terlanjur. Aku jmpt kamu! Rapi-rapi sana. Pas aki sampe biar kamu uda siap" suaranya mulai melemah. "Kamu yakin? Aku beneran ga apa-apa naik taksi. Kalo emang ribet, beneran ga usah. Td aku cuman sekadar tanya kamu bisa atau ga" suaraku masih terjaga datar.. "Udahlah. Aku bilang bisa ya bisa. Kamu siap2, nanti kalau dah mau sampe, aku kabarin. Oke? Udah ya. Aku beberesan kerjaan dulu" percakapan berakhir.
Klikk...
"Kamu koq bisa sakit sih? Bener-bener deh bikin runyam schedule orang aja. Kamu kan tau aku sebenernya ga suka jadwalku keganggu" bahasnya di mobil. "Iyaa.. Sori" lagi lagi hanya bisa jawab singkat, sambil kutekan jari2ku lagi di telinga.. Kok dadaku masih terasa sakit ya? Semakin kukencangkan tekanan di telingaku. Sakittt. Telingaku memerah. Tp dadaku sudah tidak sakit.
"Trus kamu dah makan? Tadi muntah lagi?" Lanjut bertanya padaku. "Iya, tadi uda makan, trus langsung muntah. Tapi tadi si Geplok dah kasih aku obat mual. Yaaaa biasa aja sih, tetep aku masih suka mual. Cuman aku ga makan dulu aja. Takut keluar". Jelasku panjang lebar. "huh. Ada-ada aja emang. Dari jam berapa kamu tiba-tiba sakit memang? Tadi pagi kayaknya kamu baik-baik aja kan? Makan pagi kan kamu?" Serangnya. "Makan koq. Sarapan koq" jawabku belum selesai "makanya kalo sarapan jangan susu aja, itu namanya minum, bukan sarapan!" Tanyanya. "Aku ga susu koq hari nih. Malah aku malah makan nasi goreng mama. Mungkin faktor kecapean. Aku juga ga tau.. Hoeexxx.. Hoeexxx.. Aku pusing banget nih.. Diam dulu ya" Dia menatapku sambil menyetir. Aku sudah benar-benar ga tahan, rasanyaaaaa ususku ingin keluar dari perutku.. Berkali-kali aku mual.. Dan berkali-kali dia menatapku di sela-sela kemacetan ibukota.
"Kamu keliatan lemes banget loh" "hmmm.. Iya" Tiba2 ucapku menyelip di antara alunan lagu mobilnya. "Kamu kayaknya parah banget deh. Kita ke dokter aja yaa" ide gilanya muncul. "Ga usah deh. Aku di rumah aja. Minum obat maag di rumah, ntar minta mba kerokin" hindarku. "Kalo kamu memang ga mau repotin aku, artinya kamu harus nurut sama aku. Kita ke dokter sekarang juga" Jleb.. Dadaku sakit lagi. Benciiiii bangettttt rasain sakitnya.. Aaaah.. Aku merasa aku ini ga berharga.. Aku ini cuman cewe yang di matanya cuman bisa bikin dia susah.. Aku cuman bisa pejamkan mata, takut-takut ada air mata mencuri keluar dr pelupuk mataku. "Hmm ya uda terserah kamu" dijawab "kamu sekarang tidur dulu, bangkunya diturunin aja. Sini.. " Meraih tanganku dan digenggam selama menyetir.
Sampai di rumah sakit, dia mengurusi semua prosedur di rumah sakit. Setelah itu hanya duduk di sisiku. Mengeluarkan ponselnya dan bersibuk diri. Selang 15mnt, "kamu masih mual?" Mungkin baru ngeh ada orang di sampingnya yang perlu diperhatikan. Untung tidak terlanjur dipanggil Tuhan karena ditinggal bersibuk dengan ponsel. Umpatku dalam hati sambil menahan mual. "Masih. Dingin banget rasanya". "Dasar kamu. Makanya.. Sini tangannya.. Gilaaa dingin kayak kulkas!" Digenggam tanganku hingga namaku dipanggil masuk. Kok kehangatan bercampur sakit yg mendalam ya. Tp aku tak bs tekan telingaku dengan jari-jari tanganku sedang digenggamnya erat…
"Nih obatmu, ayo kita pulang. Biar cepet sampe rumah, kamu istirahat" sibuknya mengurusi diriku. Aku hanya lunglai menuruti lengannya membimbingku. Tiba-tiba air mata mengalir di tengah keheningan di dalam mobil. "Kamu nangis? Kamu kenapa lagi?" Aku hanya bs diam dan mjwb "gapapa. Lg ga bs bahas, lemes.." Dia diam bbrp saat kmdn menyeletuk "dasar kinoi.. Ya uda kamu merem dulu, bentar lagi sampai di rumah". Aku memejamkan mata menuruti sarannya, tapi tangan meraba telingaku lagi. Sakit.. Ntah mengapa...
"Aku pulang ya. Kamu istirahat, nanti kita ga usah telponan dulu. Salam buat mama, aku ga mampir ya. Nite". Aku cuman jwb "thansk ya. Ati-ati pulangnya. Sampe rumah, kabarin". Sejam kemudian aku terima message "udah sampe rumah. Uda tidur ya? Ya wess, istirahat geh. Nite.. Imissu" Dan aku hanya bisa menangis... Luka itu kubiarkan mengering.. hingga ku terlelap dalam mimpi…
***
Jeplak-Jeplak Kakiku:
Haduhh maaf yaa... saya masih kesulitan menemukan judul yang tepat untuk sepenggal kisah di atas. Tiba-tiba teracik antara imajinasi dan pengalaman rasa... Semoga material-material mendatang dapat menyempurnakan tema cerita pendek ini...
Letter for My Babies
2002
“Ikutan koko yuk ambil anjing di rumah temen koko”
“Kok anjingnya jidatnya mengkerut gitu sih ko? Gue maunya yang coklat-item aja”
“Ga bisa de. Yang coklat item itu mau dipiara ma orang lain. Kita yang coklat ini aja”
“Kasihan ya ko tampangnya. Napa dia gemeter gitu ya badannya? Jidat mengkerut dari sananya yak o? (sambil elus-elus)”
“Kasih nama apa nih? Panjang gini badannya”
“Sini coba panggil…… (setelah sekian banyak nama disebut)…. SOSIS… sini SOSIS”
Sejak itu si teckle coklat berjidat mengkerut itu pun jadi anggota keluarga baru di rumah kami…… Pertama kali makan nasi masih harus disuapin. Bahkan pernah sakit maag karena telat makan. Sampai-sampai muntah cairan hijau di sepanjang jalan. Belum lagi masih mata pernah bengkak segede bola golf karena digigit serangga. Ahhhh si manjaaa…. Yang maunya tidur dipangku sampai terlelap… baru dhe dipindahin di kandang.. si penakut yang ga suka sama air karena pernah kejebur di got depan rumah. Si anggun yang tiap pagi harus jemuran. Si egois yang selalu maksa duduk di sofa ruang tamu meskipun orang lain lagi duduk di sana. Si ratu sejagad raya yang dilepas seharian di rumah dan masuk kandang kalau tidur malam aja. Tiap pagi kebangun bunyi kerincingan kalung dan bunyi telapak kaki jalan yang kayak kuda “tuk tuk tuk tuk” Setahun penuh jadi anak kesayangan semua orang rumah…..
Sampai pada suatu hari….
2003
“Poppy-nya si Gerry melahirkan, aku mau dikasih satu. Anterin ambil di rumah Gerry donk”
“Yang itu aja tuh di pojokan tuh…. Yang lagi seru maenin pot… lucu juga tuh yang itu”
“Aktif banget tuh kayaknya…”
“Aku mau kasih nama si brotchen, artinya kan roti-roti kecil. Biar kalau nambah satu lagi jadi hotdog aja”
“Si Ama susah panggilnya tuh… brooo.. chenn.. susah banget sih de lu kasih namanya… si Ama panggilnya Brohen tuh.. Udah si brohen aja”
“Ya udah.. pada ga canggih neh lidahnya… Gue uda kasih nama Jerman loh itu”
“Waduhhhh jok mobil gue dikencingin neeeehhh….”
Sejak itu…. Semua sudah menduga ni bocah bakal jadi biang keladi kehancuran perabotan rumah. Tiga hari diomelin sosis.. digonggong dari pagi aampe malam… Ga kalah manja ma si Sosis. Tiga hari tidur bersama sebelum masuk kandang, dia selalu nangis kalau aku balik badan. Karena dari lantai, dia ga bisa melihat aku ada di atas ranjang. Dia ketakutan… DItinggal mandi nangis, ditinggal ganti baju nangis lagi, ditinggal ke sekolah nangis lagi. Tapi kalo dibentak ma sosis, ngegerem.. ehh busetttt.. galaakkk…. Semua sandal jepit sebelah kiri selalu putus digigit… semua ujung-ujung kardus bolong… bahkan tas penuh Bee Cheng Hiang pun ludes dimakan… busetttt….. suka banget sih makan.. Jatah Sosis pun diembat… kelakuan yang sering dibilang binal ini neh yang bikin orang rumah senewen… Disuruh shake hand ga mau.. selalu dibandingin ma sosis yang kalem. Ngomong-ngomong, SOsis malah jadi sayang banget sama dia ya.. Tiap hari jilatin badan brohen, tiduran saling bersandar…
2004 – 2007
Saat aku pindah ke Kepa Duri, mereka tuh digotong juga ke sana… tapiiiii setiap malamm gonggong terus.. sampe-sampe orang rumah tidak bisa tidur. Selain itu, mereka tampaknya tertekan ya pas liat ada Donia dan Beno si Rotweller itu… Ga ada seminggu mereka dipulangin lagi ke Rajawali. Kita jadi semakin jarang bertemu ya… Dia diurus ma Mba Siti… Semua jadi penurut karena takut sama namanya GAGANG SAPU. Tidak banyak kenangan selama tiga tahun memang, tapi ga pernah merasa tidak semakin mengenal mereka
2007-2010
Aku kembali lagi ke Rajawali. Mereka sudah tidak dilepas bebas lagi seperti tiga tahun lalu kutinggal… Alasannya ya karena mereka suka curi-curi kabur dari rumah sih…. Masa suruh Ama or Siti yang kejar-kejar terus sih? Makin diperhatiin, kayaknya dia makin bandel ya Brohen…. Tapi makin manjaaa juga… Maunya dielus-elus juga tapi gonggongannya aja dasyattt… Jadi inget setiap main kejar-kejaran ma dia, kalau dia kalah pasti dia nyerang bagian belakang kaki pas aku dah jalan ngeloyor… Dasar pendendam!
Lah ini si sosis kok ga gendut-gendut ya? Tetepppp aja kurus ramping, ketahuan nih makanannya dihabisin ma brohen ya? Masih aja tiap suara sembahyang dari Masjid bunyi, dia pasti tereak-tereak. Brohen sih ikut-ikutan aja… Tampaknya sekarang Sosis makin jago ya berburu tikus….. Bahkan anak kucing pun dia telen.. Prestasi yang ruarr biasaa…
Mereka uda umur 8-9 tahun, kelakuan tetap seperti bocah… kalau diitung usia anjing, seharusnya mereka tuh uda berkisar 56 tahun atau 63 tahun loh.. WOoowww sudah tuaaa sekalii, tetapi kenapa tingkahnya masih kayak bocah yaaaa…. Berantem karena berebutan makanan. Camilan tulang sampai berhenti dikasih ke mereka karena setiap dikasih pasti berantem hebat …. Mau dikasih mainan pasti selalu berujung baku hantam….
Kalau aku lagi nangis, Sosis mah ngeloyor pergi aja kalau ga, liatin bingung. Brohen juga cuman samperin bentar terus rebahan di lantai. Tapi nggak apa-apa, tingkah mereka yang kayak gitu yang bikin hati tenang… Kan orang nangis kadang cuman butuh ditemenin aja di samping….
Mereka tuh terkenal loh di kalangan teman-temanku. Dari teman SMP ampe kuliah, bahkan S2…. Bahkan mereka sangat tahu tingkah laku mereka seperti apa… Satu diem-diem galak, yang satu Bengal abis. Selain itu, sering mereka sering dijulukin si lesbong, abisnya mereka suka peluk-pelukan gitu sih…. Aku selalu pastikan bahwa sahabat-sahabat dan orang spesialku pasti mengenal mereka dan ikut menyayangi mereka. Ya meskipun ada saja yang tidak suka ma mereka… entah karena mungkin bentuk Sosis yang terlalu panjang, atau sikap Brohen yang terlalu garang.. Ga jarang Brohen dikira jantan lohh. Ga apa-apa… Aku yang paling tahu kok dia selembut apa hatinya…
Setelah bertahun-tahun bareng mereka, satu kenyataan bodoh baru aku ketahui ketika dengan iseng membuka kamus Jerman-Indonesia. Yaa… Kata “brohen” dalam bahasa Indonesia artinya merusak. Yaa ampunnn…… Nama tidak hanya menggambarkan seseorang, tetapi juga anjing, pantas saja Brooooooo tingkahhnyaa…… Unpredictable… Jago buka kandang sampai harus repot-repot ikat kandang pakai kawat. Tiap hari ada aja balok kayu yang dia terbalikkan.. Belum lagi, tiba-tiba semua orang rumah bingung, dia kok bisa keluar, ternyata dia memanjat kandang…. Tinggal Sosis gonggong sedih ga bisa keluar kandang seperti dia…
Lain cerita saat kaki Sosis kejepit di kandang sendiri.. Niat brohen sih baik mau bantu kaki Sosis keluar tapi adanya dia panik dan menindih Sosis… hahaha….. Aku cuman bisa nangis minta tolong koko tarikin kaki mungil sosis… Si koko juga kesemutan segala lagi pas mau bantu Sosis… Kaliannn iniiiii…… hahahaha….
Maaf ya aku jarang ngajak ke salon, bahkan pernah dia sampe tersiksa ma bulu dia sendiri… Maaf ya jarang ajak main saat lagi sibuk praktikum… Maaf juga ya jarang luangkan waktu untuk kasih makan saat aku keasikan janjian pergi ma temen-temen. Untung mereka ga pernah bosaaann gonggong untuk ingetin orang rumah yang lain….
2011
Tahun ini tahun penuh perubahan…. Termasuk perubahan hidup mereka. Pertama kalinya mereka mengalami perjalanan jauh dari Rajawali ke Gading Serpong naik mobil box. Pindah kandang besar pula.. Tinggal berduaan pula di dalam ruko. Sehari cuman 2 kali melihat papi, mami, aku, Reni atau Yogi untuk kasih mereka makan. Mereka masih inget Yogi kan? Dari Yogi merah sampai udah bisa menghampiri mereka di kandang, masak mereka lupa? Yang setiap pagi dijemur di teras Rajawali dan Sosis pasti menggonggong. Cemburu yaa udah jarang jemuran sendiri.. hahahaha…..
Sayangnya, ruko mau dipakai untuk keperluan bisnis. Mereka tidak bisa lagi tinggal bersama kami di rumah… Selain peraturan perumahan yang ribet, emang sudah tidak ada tempat lagi buat mereka. Pasti mereka akan tersiksa dengan rumah yang cuman seluas teras atas rumah dulu. Mau lari-lari ke mana mereka?
Akhirnya hari ini, tgl 23 Mei 2011, aku dapat kabar ada orang yang bersedia merawat kalian menggantikan kami jadi bagian keluarga kalian… Sabtu ini, tgl 28 Mei ini ya berarti…. Mereka akan diungsikan di keluarga baru. Sediiiiii sekaliii rasanyaaa………… mereka yang sudah sejak dulu jadi bagian dari kisah hidupku harus hilang dari hari-hariku di masa mendatang…. Kehilangan teman-teman menangis kalau lagi pengen nangis tapi jangan ada yang komentar… kehilangan temen yang bisa diajak kejar-kejaran….
Aku pasti kangen merawat mereka, meskipun aku bukan orang yang telaten… Tetapi aku pasti kangen dengan perasaan khawatir menunggu mereka dianter pulang dari salon. Aku pasti kangen merasakan kekhawatiran besar karena mereka sakit….. Keputusan keluarga kami mungkin terkesan egois karena untuk kelancaran bisnis. Tapi tidak ada satupun dari kami tidak bersedih kehilangan mereka……. Kami pastikan mereka berada di tangan orang yang memang penyayang….. Syukur-syukur keluarga barumu ada anak kecil yang bisa memenuhi dunia kekanak-kanakan mereka yaa……. Cepat atau lambat kita emang akan berpisah, maaf ya kami mempercepat perpisahan itu……
We’re gonna miss u both….
Sosis…. Brohen….
Rabu, 15 Februari 2012
[A] [B] [U]
Dia terlalu putih…
Selalu di sampingku… Bahkan di saatku ingin sendiri…
Tak sanggup pahami candaan berbumbu nakal sekadar pelepas ketegangan
Di matanya… Larangan itu artinya cinta, menjagaku tak terpuruk dalam kegelapan
Dia terlalu hitam…
Terpuruk dalam dunia kelam dan menjadi magnet terkuat untuk membuatku bertahan
Menerimaku apa adanya, bahkan tanpa ingin memperbaiki apapun
Di matanya… Kebebasan itu artinya peluang, agar mampu melihat dunia dan merasakan sensasi hidup
Perpaduan sepadan putih dan hitam menjadikanmu abu-abu seperti yang kubutuhkan
Selaras dalam amarah dan asmara
Selalu siap sedia tanpa lupa ruang untukku nikmati kesendirian
Tertawa lepas dalam bahasa canda yang hanya dimengerti aku, dia, dan Tuhanku
Mengajakku terbang lebih tinggi, tanpa ragu menadahku saatku terhempas
Rela merangkak bersama meski penuh luka, demi satu tuju
Larangan memang tanda cintamu padaku, agar aku tidak terbenam di lubang yang sama
Kebebasan memang peluang, biarku belajar jatuh bangun hidup dengan penuh tanggung jawab
“Dia terlalu hitam… Dia terlalu putih… Hidup ini indahnya kalau mengenal abu-abu, perpaduan sepadan si hitam dan si putih”
Minggu, 29 Januari 2012
V E R G E B E N
“Aku tak tahu bagaimana caranya memaafkan”
“Selama ini kamu hanya berpusat pada dirimu. Bahwa kamu adalah korban dari segala kesalahan yang pernah dibuatnya. Mulailah mendoakan kebahagiaan untuknya”
“Yang mungkin tak pernah rela kuberikan lagi padanya”
“Minta kekuatan pada-Nya agar kamu bisa lalui ini”
“Tiap kubuka mata, sebelum kupejam kembali”
“Kamu hanya bisa menangisi dan merasa sakit tiap nafasmu mengingatnya”
“Ingin kuenyahkan itu segera, tapi ku tak bisa”
“Lalu kamu merasa bahagia dengan semua ini?”
“Tidak… Tidak… Tidak sama sekali… Luka ini masih basah”
“Kenapa masih kamu masih mau membuatnya lebih perih?”
“Karena aku tak tahu cara mengeringkannya”
“Semua tergantung keputusanmu untuk melakukan suatu langkah.. tindakan!”
“Hanya dengan mendoakannya saja?”
“Lebih dari itu, hadapi.. Jangan lagi lari menghindar..”
“Iya.. terlalu lama menganggap semua bisa hilang karena waktu”
“Putuskan segera suatu tindakan yang menunjukkan kamu ingin memaafkannya”
“…”
-------- -------- -------- -------- 000 -------- -------- -------- --------
Kupejamkan mata, berdoa padaNya untuk diberikan kekuatan memaafkannyaa
Kusisipkan doa untuk kebahagiaannya dengan tulus hati
Terasa getir… Terasa merindu…
Mengulang kembali doa yang bertahun-tahun lama kupanjatkan
Dan kuhentikan sekejap karena rasa kecewa mendalam
Terasa canggung.. Terasa segan…
Mengharapkan kebahagiaan bagi orang yang pernah dicintai dan dibenci
Kubuka mata… Kuselesaikan doa dengan tekad…
Kuterbangkan pesan elektronik tuk menyapa, merajut hubungan penuh maaf dan ketulusan
Ich finde es schwer, dir zu vergeben, weil ich wirklich dich nie geliebt
Langganan:
Postingan (Atom)


