Saat aku dihadapkan pada dua pilihan dalam suatu hubungan yang memang tak ada ujungnya… Logika berkata, “Pilihlah untuk menyudahinya… Inilah yang terbaik bagi kalian”. Namun lagi-lagi perasaan tidak mau diajak kompromi dan memaksa, “Cobalah sekali lagi… Mungkin kali ini berhasil…” Si Bodoh tahu benar kalau apa yang sebenarnya dibutuhkan, meskipun berbeda dari yang diinginkan. Si bodoh hanya butuh pengakuan.. butuh penghargaan.. butuh kejujuran.. Lebih-lebih lagi si bodoh tahu kalau itu tidak akan pernah didapatkannya.. Mungkin karena sudah babak belur mencoba tawaran perasaan, si bodoh pun menyanggupi permintaan logika. BERAKHIRLAH semua…
Praaangg… Sebegitu hancur dan rapuhnya kalau perasaan merasa kalah bertarung dengan logika… HANCUR!!!
#1 DENIAL
Si bodoh menangis tersedu-sedu… Seharian penuh hanya meratapi keputusannya yang dianggap sangat bodoh… Kalau dada ini bisa dibuka, mungkin kalian bisa melihat betapa besar lubang di jantung hati si bodoh.. Rasanya darah mengalir deras keluar dari lubang tersebut… Seakan-akan dokter pun takkan mampu menutupnya.. Kali ini logika mengalah, maka berkata “Kamu akan baik-baik saja. Tenang… Semua akan baik-baik saja. Tuh lihat… Kamu tidak mati kan sekarang? Hanya menangis… Yaaa wajarr… Semua akan baik-baik saja” SI bodoh berkata, “I AM FINE…” dan berusaha menekan rasa pedih dan sedih sedalam mungkin dalam diri. Padahal si bodoh sebenarnya hanya membutuhkan waktu untuk dirinya bersedih…
#2 ANGER
Pikiran-pikiran tak menentu mulai memasuki hari-hari si bodoh. “Napa ini harus terjadi padaku?” “Aku tidak tahu lagi apa yang mesti dipercaya lagi” “Dia hanya mempermainkan perasaanku” “Dia hanya memanfaatkan aku” “Habis manis sepah dibuang” “Ini salah dia!!! Dia yang membuatku begini” “Sekarang dia enak-enakan di saat aku sedang merasa hancur begini.” “Ke mana dia saat aku benar-benar membutuhkan dia?” “Bilangnya sayang, tapi mana? Berdalih sahabat?” …………………..
Si bodoh berubah menjadi manusia paling menyebalkan sejagat raya. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya hanya kalimat negatif yang penuh dengan kebencian, kemarahan, iri hati, cemburu, sakit hati, dan keluhan. Bahkan si bodoh membenci dirinya yang penuh dengan sindiran, cemooh, dan kalimat setajam silet. Kenapa? Kenapa? Itu saja yang dirasakan si bodoh… Makian, umpatan, sindiran hanya ungkapan kekecewaan, kesedihan, dan kepedihan karena kehilangan sosok yang dulu pernah mewarnai hari-harinya. Sampai kapan?
#3 BARGAINING
Sampai si bodoh lagi-lagi mencoba untuk bertransaksi dengan realitas. Si bodoh lagi-lagi menguji perasaan dengan memberikan harapan-harapan semu akan realitas yang menyakitkan. Setiap si bodoh menguji diri, lagi-lagi jantung hatinya tersayat. Pedih? Jelas… Cukup sampai di sini? Tidak… Rasanya si bodoh senang menyakiti dirinya dengan harapan-harapan semu. Berkatalah si bodoh, “Coba dhe jalanin lagi hubungan ini. Setidaknya sampai aku benar-benar siap” “Sebentar saja… Sebentar lagi juga tugas saya selesai. Aku butuh dia” “Kenapa dia berubah? Tidak apa-apa… Dicoba lagi saja… Dia hanya sedang tidak ingin berbicara sejenak” Padahal logika sudah berteriak, “SEMUA SUDAH BERAKHIR!!” “Tidak pernah ada kata siap untuk berpisah!!” “Bukan dia sedang tidak ingin bicara sejenak, tetapi selamanya!!” Lalu, si bodoh harus bagaimana?
#4 DEPRESSION
Si bodoh malah semakin terpuruk. Si bodoh tidak berani keluar dari kamar. Kenapa? Setiap sudut ruang, setiap benda sekitar, setiap keadaan seakan-akan mengingatkan si bodoh pada kenangan indah yang harus dibuangnya secara paksa. Si bodoh merasa hanya ingin menangis. Rasanya ingin membayar tangisan yang tertunda. Menangis sambil menggebuk-gebuk dada dengan kencangnya berharap tusukan di hati itu hilang. Pukulan kencang saja tidak bisa mengalahkan pedihnya sayatan itu. Kenapa tidak mendengarkan musik saja? Atau melukis? Atau menulis? Atau menonton? Sebenarnya si bodoh punya waktu dan banyak pilihan untuk menyenangkan diri. Namun, hasratnya hilang seketika… WUSSSHHHH… Si bodoh seperti seonggok daging sedang menunggu waktu untuk disantap dan menghilang… Kalau seorang beriman berdoa sebelum tidur dan bangun di pagi hari, lain cerita dengan si bodoh yang mengawali dan mengakhiri hari dengan menangis. Rasanya rindu mendalam hingga ingin rasanya memeluk orang yang sudah tak lagi tampak. Inilah masa-masa kelam menuju pencerahan… Logika berkata, “Saya tahu ini keputusan terbaik. Tapi saya harus mengalah dengan perasaan” Perasaan hanya dapat menjawab, “Berilah kesempatan terakhir padaku untuk merasakan kepedihan, kehilangan, kekosongan, kesepian. Barulah giliranmu”
#5 ACCEPTANCE
Perasaan sudah puas mengambil ahli kehidupan si bodoh hampir selama dua minggu. Sampai-sampai si bodoh lelah dan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya harus ditangisi kalau secara logika ini sudah yang terbaik. Namun, ada yang mengganjal di hati. Apakah itu? KENYATAAN. KEJUJURAN. PENGAKUAN. Si bodoh butuh dan berhak akan semua itu. Datanglah si bodoh menghadapi kenyataan, menuntut kejujuran, dan meminta pengakuan. Semuanya terjawab sudah… Orang yang dulu pernah dicintainya bukanlah orang yang sebaik yang dibayangkan. Si bodoh sadar bahwa dia berurusan dengan sosok yang belum memahami diri sepenuhnya sampai-sampai membuat si bodoh pun tidak memahami hubungan tersebut. Si bodoh memejamkan mata sejenak, rasanya beban sudah hilang. Ketakutan dalam menjalani hubungan tak berujung sudah sirna. Kepedihan yang membunuh hasratnya telah berlalu. Si bodoh mulai terbiasa melangkah sendiri tanpa sosok yang mendampinginya sepertiga dekade. Si bodoh mulai mencintai dirinya kembali. Meskipun rasa rindu masih sering mencuri waktu mengunjungi si bodoh. Luka itu mulai mengering tapi bekas tidak akan pernah hilang…
Quote jemariku #3:
Jangan pernah melupakan proses dari suatu hasil yang baik...
Jeplak-jeplak kakiku:
Blog ini terinspirasi dari Kubler-Ross Model yang menjelaskan beberapa tahap seseorang yang mengalami kehilangan, antara lain (1) denial, (2) anger, (3) bargaining, (4) depression, dan (5) acceptance. Tahapan ini tidak berlangsung secara berurutan dan tidak semua orang mengalami kelima tahap tersebut. Kadangkala terjadi efek "Roller Coaster" yang membuat tahap satu dengan yang lainnya berulang kali terjadi sampai akhirnya dilalui. Setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda dalam menghadapi kehilangan, tetapi minimal dua tahap akan dilalui orang tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar