“Aku tak tahu bagaimana caranya memaafkan”
“Selama ini kamu hanya berpusat pada dirimu. Bahwa kamu adalah korban dari segala kesalahan yang pernah dibuatnya. Mulailah mendoakan kebahagiaan untuknya”
“Yang mungkin tak pernah rela kuberikan lagi padanya”
“Minta kekuatan pada-Nya agar kamu bisa lalui ini”
“Tiap kubuka mata, sebelum kupejam kembali”
“Kamu hanya bisa menangisi dan merasa sakit tiap nafasmu mengingatnya”
“Ingin kuenyahkan itu segera, tapi ku tak bisa”
“Lalu kamu merasa bahagia dengan semua ini?”
“Tidak… Tidak… Tidak sama sekali… Luka ini masih basah”
“Kenapa masih kamu masih mau membuatnya lebih perih?”
“Karena aku tak tahu cara mengeringkannya”
“Semua tergantung keputusanmu untuk melakukan suatu langkah.. tindakan!”
“Hanya dengan mendoakannya saja?”
“Lebih dari itu, hadapi.. Jangan lagi lari menghindar..”
“Iya.. terlalu lama menganggap semua bisa hilang karena waktu”
“Putuskan segera suatu tindakan yang menunjukkan kamu ingin memaafkannya”
“…”
-------- -------- -------- -------- 000 -------- -------- -------- --------
Kupejamkan mata, berdoa padaNya untuk diberikan kekuatan memaafkannyaa
Kusisipkan doa untuk kebahagiaannya dengan tulus hati
Terasa getir… Terasa merindu…
Mengulang kembali doa yang bertahun-tahun lama kupanjatkan
Dan kuhentikan sekejap karena rasa kecewa mendalam
Terasa canggung.. Terasa segan…
Mengharapkan kebahagiaan bagi orang yang pernah dicintai dan dibenci
Kubuka mata… Kuselesaikan doa dengan tekad…
Kuterbangkan pesan elektronik tuk menyapa, merajut hubungan penuh maaf dan ketulusan
Ich finde es schwer, dir zu vergeben, weil ich wirklich dich nie geliebt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar